Gereja Katolik
PAROKI ST. PERAWAN MARIA YANG DIKANDUNG TAK BERNODA ASAL - KATEDRAL MEDAN

English Indonesia
  SEJARAH PAROKI  | BERITA | IMAN KITA  | RENUNGAN | BUKU TAMU | TANYA JAWAB
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 3
Lukas 1:38

Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Luke 1:38

Then Mary said, Behold, I am the handmaiden of the Lord; let it be done to me according to what you have said. And the angel left her.
Lukas 1:46-47

Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,

Luke 1:46-47

And Mary said, My soul magnifies and extols the Lord,
And my spirit rejoices in God my Savior,

Lukas 1:48

sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
Luke 1:48

For He has looked upon the low station and humiliation of His handmaiden. For behold, from now on all generations [of all ages] will call me blessed and declare me happy and to be envied!
Lukas 1:49-50

karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.

Luke 1:49-50

For He Who is almighty has done great things for me--and holy is His name [to be venerated in His purity, majesty and glory]!
And His mercy (His compassion and kindness toward the miserable and afflicted) is on those who fear Him with godly reverence, from generation to generation and age to age.

Lukas 1:51

Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Luke 1:51

He has shown strength and made might with His arm; He has scattered the proud and haughty in and by the imagination and purpose and designs of their hearts.
Lukas 1:52-53

Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;

Luke 1:52-53

He has put down the mighty from their thrones and exalted those of low degree.
He has filled and satisfied the hungry with good things, and the rich He has sent away empty-handed [without a gift].

Lukas 1:54

Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,

Luke 1:54

He has laid hold on His servant Israel [to help him, to espouse his cause], in remembrance of His mercy,

Lukas 1:55

seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
Luke 1:55

Even as He promised to our forefathers, to Abraham and to his descendants forever.
Lukas 2:48

Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."
Luke 2:48

When his parents saw him, they were astonished. His mother said to him, "Son, why have you treated us like this? Your father and I have been anxiously searching for you."
Yoh 2:5

Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"
John 2:5

His mother said to the servants, “Do whatever he tells you.”
     
       
SEKRETARIAT
DPPKM
STASI ST. PAULUS
LINGKUNGAN
LITURGI
PETA
 PELAYANAN PASTORAL
   
 
 WARNASARI
   
 
 VIDEO
   
 
 
SEKRETARIAT

GEREJA KATEDRAL
St. Perawan Maria yang Dikandung tak Bernoda Asal

PAROKI KATEDRAL MEDAN
Jl Pemuda No. 1 – Medan 20151
Telp : 061 - 4552753
Fax : 061 - 4558918
 Handphone :
081361925876

JAM KERJA
Senin s/d Jumat : Pkl 09.00 - 16.30 WIB
Sabtu : Pkl 09.00 - 12.00 WIB
YM LIVE CHAT
JOIN US

 
Link Lainnya:
 
 

HOLY BOOK


:  -



 

K O N K O R D A T

Lanjutan
 


 
MISA SYUKURAN 40 TAHUN TAHBISAN USKUP MGR. PIUS DATU BARA
 


RM Indonesia Online Streaming
Dengarkan di WINAMP


Radio Karina


Radio HMWN


Radio Maria


Radio Spirit Catholic

   
 

1373873

Pengunjung hari ini : 5
Total pengunjung : 233361

Hits hari ini : 83
Total Visitor : 1373873

Pengunjung Online: 1

RENUNGAN
PREVIOUS PAGE         NEXT PAGE
KESAN PERTAMA
Yohanes 2:1-11
Oleh: RD  Alf Very Ara

 
Di mana saja, pada suku atau rumpun budaya apa saja terdapat satu adat atau kebiasaan yang hampir sama. Apabila seorang jejaka hendak melamar seorang gadis pujaannya, maka hal utama yang harus diperhatikan adalah pertemuan resmi yang pertama harus memberikan kesan yang baik dan menyenangkan bagi orang tua dan keluarga gadis pujaannya itu.
 
Karena itu, apabila Togas Sinaga hendak melamar Rotua Sianipar, maka dia harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, terutama penampilan, tutur kata dan sikapnya. Penampilannya harus sungguh-sungguh mengesankan. Jika tidak, bukanlah mustahil lamarannya akan ditolak.
 
 
“Itulah tanda pertama yang dikerjakan Yesus di Kana, wilayah Galilea dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaanNya dan murid-muridNya percaya kepada-Nya” (Yoh 2,11). Tanda pertama yang dilakukan Yesus diakui sangat mengesankan. Dengan tanda yang dilakukannya itu, banyak orang tergugah dan digugas, termasuk para murid-Nya untuk percaya kepada-Nya.
 
Yesus menyadari bahwa betapa pentingnya memberikan kesan pertama yang menarik; meninggalkan bekas atau dampak yang mendalam serta bertahan lama dalam hati setiap orang yang dihadapi-Nya, terutama para murid-Nya yang secara istimewa akan menjadi teman seperjuangannya untuk melanjutkan pembangunan Gereja-Nya.
 
Untuk memberikan kesan pertama yang meyakinkan itu, Yesus, melalui Bunda Maria telah menemukan satu sarana penampilan yang jitu. Itulah peristiwa perubahan air menjadi anggur. Air yang diubah menjadi anggur bukanlah sekadar anggur kelas murahan, melainkan anggur yang terbaik; anggur yang biasanya dihidangkan untuk pertama kalinya kepada para tamu yang terhormat dalam sebuah pesta supaya memberikan kesan yang baik bagi mereka.
 
Di Kana, melalui tanda heran perubahan air menjadi anggur, Yesus tampil sangat mengesankan: Dia tampil bukan hanya sebagai pembuat mukjizat, tetapi sebagai Anggur yang Terbaik. Karena kemudian ketika anggur mukjizat di Kana itu habis diminum, para murid-Nya senantiasa terkesan, bukan lagi oleh anggur itu, melainkan oleh Yesus, Sang Anggur yang terbaik itu.
 
Mampukah kita untuk selalu tampil mengesankan sebagai anggur yang terbaik melalui penampilan, sikap dan tutur kata kita bagi Allah dan sesama? Bukan saja yang pertama kali, tetapi untuk selanjutnya, selalu dan di mana saja?

....DETAILS

RAHMAT PEMBAPTISAN MEMBAWA KITA PADA HIDUP DALAM DOA

OLEH: RD. BENNO OLA TAGE

 
Minggu, 13 Januari 2013, Gereja merayakan Yesus dibaptis. Dalam bahasa liturgi kita disebut Pesta Pembaptisan Tuhan. Bacaan Injil yang disampaikan kepada kita yakni Lukas 3:15-16,21-22. Bila kita membaca, mencermati dan merenungkan Injil ini, kita akan menemukan banyak makna yang terkandung dalam kisah kesaksian Yohanes pembaptis tentang Yesus (Luk.3:15-16) dan peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis (Luk 3:21-22).
 
Dalam sapaan pastoral kali ini, kami mengajak saudara-saudari untuk memperhatikan salah satu sikap Yesus saat dibaptis. Saat dibaptis, Yesus memperlihatkan sikap doa. Dan masih berdoa beberapa saat setelah dibaptis. Saat sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya.
 
Yesus berdoa, itulah kesimpulan kita. Sikap doa ini terus diperlihatkan Tuhan Yesus dalam pewartaan Kerajaan Allah. Yesus berdoa sebelum memilih dua belas murid, Yesus berdoa sebelum menyembuhkan orang sakit, Yesus berdoa setelah ia memberi makan 500 ribu lelaki, Yesus berdoa sebelum peristiwa wajahnya  berubah di atas sebuah gunung, dan Yesus berdoa di taman Getsemani sebelum ia menjalani jalan salib dan mati di kayu salib.
 
 
Doa telah menjadi perilaku utama Tuhan Yesus. Dalam doa, Tuhan Yesus membangun komunikasi pribadi dengan Allah, Bapa di surga. Ketika komunikasi itu dibangun, langit terbuka, dan terdengar suara dari langit, ”Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Luk.3:22). Dalam doa, kuasa Allah dicurahkan kepada sang pendoa. Meskipun, Dia lahir oleh kuasa Roh Kudus, Yesus memperlihatkan kuasa itu hanya dipelihara lewat sikap doa yang total dan tiada henti. Inilah sikap Tuhan Yesus, yang lahir dari dalam sisi manusiawi-Nya.
 
Perayaan Pembaptisan Tuhan Yesus, kali ini dirayakan pada tahun 2013. Sebagaimana pernah disampaikan melalui media “Berkat”ini, bahwa Januari- Juni 2013 adalah Tahun Iman. Salah satu sikap bahwa orang itu beriman adalah berdoa. Barangsiapa mengakui dia adalah orang yang percaya pada Tuhan, tetapi di dalam dirinya tidak sikap doa, tidak pernah berdoa, ia sebenarnya bukan sebagai seorang beriman. Ini sama dengan seorang pria yang mengatakan bahwa si Melisa Magdalena itu isterinya, tetapi sejak hari pernikahan ia tidak pernah bicara dengan isteri, tidak pernah bersama dengan si isteri dalam situasi dan bentuk apapun, ia sebenarnya bukanlah seorang suami.
 
Dalam menghayatan tahun 2013, sebagai tahun imam, maka marilah kita menjadi doa sebagai kehidupan pribadi kita maupun kehidupan bersama kita. Doa laksana oksigen yang kita hirup setiap hari. Setiap tarikan nafasmu adalah doa. Dengan demikian, di manapun kita berada kita selalu dalam situasi batin berdoa. Berdoa berarti memandang kepada hal-hal ilahi, ibadat, perayaan liturgi. Artinya kita bisa membayangkan tentang ibadat di manapun kita berada.
 
Kita mengingat bagian-bagian tertentu dari perayaan-perayaan ekaristi, ibadat, doa rosario, doa karonka dan sebagainya. Berdoa berarti berbicara dengan Allah dalam bentuk pujian, sembah dan permohonan. Kita mengucapkan sebait mazmur, misalnya, Tuhanlah gembalaku, saat dalam perjalanan. Kita boleh berucap Yesus, Engkau cahaya kehidupanku saat malam turun ke kota Medan.   Amin
 
  
 

 

....DETAILS

DIA YANG TAMPAK MEMBAWA KESELAMATAN

(Matius 2:1-12)
OLEH: RD. SILVESTER ASAN MARLIN

 Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus,

Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakkan Tuhan yang ditandai dengan munculnya bintang timur.

Sinar bintang itu menghantar tiga orang majus untuk menemui Raja baru: Yesus yang bertakhta di palungan. Warta malaikat dan pernyataan

Allah dalam mimpi mengumandangkan bahwa Yesus adalah Penyelamat; Sang Mesias.


Hari ini, Tuhan menunjukkan bahwa karya keselamtan Allah bagi dunia mulai tampak dengan hadirnya bayi mungil bersahaja di Betlehem.

Bukan hanya itu,Allah juga berkenan menampakkan kuasa-Nya untuk mengantar semua orang datang serta menikmati keselamatan yang dibawa oleh Yesus.

Memang, tidaklah mudah meraih keselamatan. dibutuhkan sikap proaktif mencari sumber keselamatan itu dan sikap rendah hati dengan mengesampingkan diri sendiri dengan segala atribut keduniawian  untuk dapat bersujud dan mempersembahkan hidup ini pada karya keselamatan Allah.

Inilah yang dilakukan oleh tiga orang majus itu. Mereka rela meninggalkan negeri, keluarga, kekayaan dan semua yang mereka miliki untuk mencari dan menemukan keselamatan.

Tetapi tengoklah sikap Herodes, kendati ia sudah diberitahu akan hadirnya Sang Mesias, bahkan diyakinkan lagi oleh para imam kepala dan ahli taurat, dia tidak mencari Mesias dan bersembah sujud kepada-Nya.

Sebaliknya, ia justeru merasa terusik, dia merasa kekuasaannya akan dirongrong. Karena itu, dengan segala tipu dayanya, dia justru berikhtiar untuk melenyapkan Mesias, kendati harus mengorbankan banyak bayi yang tak berdosa.

Saudara-saudari yang terkasih,
  
Tuhan telah menampakkan karya keselamatan-Nya.
 
Juga membuka jalan bagi siapa saja untuk mengantar mereka sampai kepada keselamatan itu. Namun, bagaimana dengan sikap kita?
 
Apakah kita bersikap seperti tiga orang majus yang setia mengikuti tuntunan bintang timur untuk sampai kepada keselamatan itu?
 
Atau kita seperti Herodes yang menolak bahkan berusaha  membinasakan Sang Keselamatan itu?
 
“Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” (Yes 55:6)

  ....DETAILS

HIDUP DALAM KUASA DICINTAI
OLEH: RD. BENNO OLA TAGE

“Allah telah mengasihi kita” (1 Yoh 4:19).  Inilah tema Natal dalam pesan para Uskup Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja Indonesia (PGI). Siapakah yang telah dirubah oleh kekuatan cinta Tuhan?
Brooke Bronkowski adalah generasi zaman ini gadis  laksana putra-putri kita menyaksikan gemerlapan kota New York, Chicago maupun California. Ia juga merasakan denyut kehidupan kemiskinan di kawasan kumuh New York, manusia yang hidup kekurangan materi dan cinta, anak-anak terlantar dan kaum pengemis. Ia anak zaman yang mengenal internet, berkomunikasi dengan hp. Tetapi dia telah tampil sebagai mahkluk yang hidupnya tidak didikte oleh masa media, kegerlapan dunia malam, hedonisme dan budaya konsumerisme.

Kebanyakan anak-anak saat ini dalam usia remaja dirubah oleh gaya   hidup: hedonisme, hapy. Atau ada anak-anak yang dirubah menjadi anak jahat, geng motor, alkoholis-narkobaan karena kemiskinan, kurang kasih sayang orangtua atau hidup sebagai orang yang tersingkir. Tetapi pada saat yang sama Brooke Bronkowski dirubah oleh Sabda Tuhan. Cinta Tuhan kepadanya merubah hidupnya. Ia dirubah oleh cinta.  Pada usia SMP, ia aktif dalam kegiatan Gerejani. Ia menggunakan uang persenan dari menjaga  baby (baby sitting) untuk membeli Alkitab kemudian dibagi-bagi kepada teman-temannya. Tujuannya hanya satu yakni agar teman-temannya semakin  mengalami cinta Tuhan.
Pada usia 12 tahun, Brooke Bronkowski, menulis demikian: Aku akan menikmati hidup dengan sepenuhnya. Aku akan bergembira. Aku akan bersukacita lebih dari sebelumnya. Aku akan bersikap baik terhadap orang lain. Aku akan tidak lagi bersikap kaku. Aku akan bercerita tentang Kristus kepada orang-orang. Aku akan bertualangan menjelajahi dan mengubah dunia ini. Aku akan bersikap tegar dan tidak perlu mengubah jati diriku. Aku tidak akan mempunyai masalah apapun, tetapi akan membantu orang lain menyelesaikan masalahnya.

Lihat saja, aku akan hidup sebagai orang yang mengukir sejarah di usia mudaku. Oh, tentu saja aku akan mengalami momen-momen yang baik maupun yang buruk, tetapi aku akan menghapus yang buruk dan hanya mengingat yang baik. Bahkan hanya momen-momen yang baik aku ingat, tiada ada yang di tengah-tengah. Pokoknya, aku hanya menjalani hidupku sepenuhnya. Aku akan menjadi salah satu dari orang-orang yang pergi ke suatu tempat dengan misi,rencana yang luar biasa, rencana yang mengubah dunia, dan tidak ada hal yang menghalangiku. Aku akan memberikan teladan kepada orang lain, aku akan berdoa meminta petunjuk.

Aku memiliki masa depan yang masih panjang. Aku akan membagikan sukacita yang kumiliki kepada orang lain dan Tuhan akan memberikan sukacita yang lebih besar bagiku. Aku akan melakukan setiap hal yang Tuhan perintahkan kepadaku. Aku akan mengikuti jejak langkah Tuhan. Aku akan melakukan yang terbaik.”

Ketika duduk di kelas I SMAN,Brooke mengalami kecelakaan mobil saat pergi menonton film di bioskop.Ia meninggal pada usia 14 tahun. Pada acara penguburannya dihadiri kurang lebih 1500 orang. Sebab Brooke telah dikenal sebagai gadis yang merasul dan mengajak orang untuk mengalami cinta Tuhan. Pada hari itu dibacakan tulisan-tulisan dan puisi tentang cintanya kepada Tuhan dan cinta Tuhan kepadanya. Semua orang mengomentari teladan dan sukacita hidup/antusiasme  yang ia miliki.
 
Usia Brooke Bronkowsi 14 tahun. Tetapi apa yang ia buat dalam usia yang begitu pendek  tidak sebatas usiannya itu. Seperti suratnya di atas, melalui kesaksian hidupnya, mewartakan Yesus dan puisi-puisinya, ia telah menjelajahi seluruh dunia.  Hidupnya menjadi inspirasi bagi remaja di zaman modern ini.
Seorang anak dan remaja lebih mudah disentuh perasaan dan diyakinkan bahwa mereka dicintai oleh Tuhan. Tuhan mencintai mereka lewat kebaikan dan kasih sayang orangtua, keluarga dan guru. Tetapi bagi orang dewasa amatlah sulit untuk disadarkan bahwa kita dicintai oleh Tuhan. Orang mendewasa lebih mawas atas luka batin,punya pengalaman ditolak cintanya,memiliki banyak masalah,utang-piutang,capai dan letih akibat pekerjaan.
 ....DETAILS

APA YANG HARUS KAMI LAKUKAN?

 

Merayakan secara liturgis peristiwa Natal setiap tahun selalu dapat mengesankan seperti yang sedang kita nantikan dan harapkan saat ini. Tetapi, semeriah dan seindah apa pun perayaan itu, kalau Yesus tidak lahir di hati kita, semuanya itu menjadi sungguh tidak berarti.

            Karena itu, betapa pentingnya pertanyaan yang mengemuka dari Injil Minggu Adven III saat ini untuk kita, “Apa yang harus kami lakukan?”.  Pertanyaan ini tidak begitu saja muncul, tetapi buah dari ajakan pertobatan Yohanes Pembaptis dan lahir dari kesadaran. Pertanyaan itu pun ditujukan kepada pribadi penuh wibawa, maka jawabannya pun sangat meyakinkan untuk dilaksanakan.

            Pada Persiapan menyambut hari raya yang semakin mendekat ini, apa yang harus kita lakukan agar Yesus lahir di hati kita?  Pertama, kita harus bertobat. Pengakuan dosa yang tulus disambut dan dipenuhi dengan pengampunan atau absolusi itu, sejatinya telah membersihkan dan membuka penuh “gua atau kandang” hati kita.

            Kedua, kita harus lebih banyak berdoa secara khusuk dan khusus, baik dalam kelompok lingkungan atau pribadi. Doa sejati dan meditasi dalam keheningan itu menciptakan jalur jalan-jalan yang akan dilalui oleh St Yosef dan St Maria untuk sampai ke gua hati kita. Sedangkan kontemplasi adalah sang bintang.

Ketiga, adalah keadilan, kejujuran, terlebih semangat rendah hati dan murah hati dengan mau berbagi dengan sesama dalam amal kasih. Keadilan dan kejujuran menjauhkan kita dari sikap tamak yang mementingkan uang dan harta di atas segalanya. Rendah hati menjauhkan kita dari kesombongan, yang menjadi akar segala kejahatan. Hati orang tamak dan sombong tertutup rapat untuk kesusahan sesama, dan kebaikan Tuhan dianggap kebetulan atau memang itu haknya. Karena hatinya tertutup maka hanya menimbun kegelisahan yang semakin memperkuat tutup pintu itu jauh dari sentuhan rahmat dan kasih Allah. Kerendahan hati dan kemurahan hati dalam berbagi harta milik adalah langit luas nan cerah dan cakrawala indah bersinar, untuk mensyukuri segala kebaikan Tuhan dalam semua peristiwa yang dialami.

            Kita tahu dalam cerita klasik, Yosef mencari penginapan agar Maria dapat melahirkan Yesus secara layak, tetapi ditolak meskipun ada tempat, karena mereka tidak punya cukup uang (bdk. Luk 2:7). Maka, jangan sampai kita lalai untuk berbagi dengan mereka yang sedang berkesusahan. Berbagi dengan mereka adalah berbagi dengan Allah, karena dalam diri Yesus, Allah mengindentifikasi diri dalam mereka. Para gembala domba di padang adalah contoh pribadi-2 yang jujur, adil, rendah hati dan murah hati. Kemurahan hati bukan hanya milik orang kaya, karena kemurahan hati bukanlah hanya soal materi, tetapi sungguh2 soal hati.  Semoga dengan persiapan yang baik dan terlebih karena rahmat kasih-Nya, Sang Imanuel sungguh lahir di hati kita.  Selamat memasuki Minggu Adven III. (Eligius)

....DETAILS

KEKELUARGAAN DIBAWAH LINDUNGAN BUNDA MARIA
OLEH: RD. BENNO OLA TAGE
 
 Sebuah keluarga ditampakkan melalui kebersamaan dalam peristiwa tertentu. Dalam peristiwa itu ikatan kekerabatan dapat dialami dan dirasakan. Misalnya pada saat ulang tahun sang mami ke-65. Anak-anak,cucu dan kerabatan datang memberi ucapan selamat dan mereka boleh makan bersama. Atau ketika sang putri menikah.Di sana sanak keluarga berkumpul baik pada waktu pemberkatan perkawinan atau pada acara resepsi.

Umat Katedral Medan tidak memiliki hubungan darah secara langsung atau tidak langsung. Memang, di antaranya,cukup banyak umat Katedral yang masih memiliki jalinan kekerabatan. Namun itu bukan alasan mereka menjadi umat Katedral. Ya, kebetulan mereka satu Gereja di paroki Katedral. Meskipun kita tidak memiliki hubungan kekerabatan secara biologis tetapi kita adalah sebuah  keluarga. Keluarga besar umat Katedral.


Oleh permandian, kita telah disatukan dalam hubungan dengan Tritunggal mahakudus. Kesatuan itu secara nyata, kita alami sebagai sebuah keluarga dalam sebuah paroki yakni paroki Katedral. Laksana sebuah keluarga, layaklah kita sesekali mengalami kebersamaan. Memang selama ini, kita telah mengalami kebersamaan dalam doa di lingkungan, perayaan ekaristi di lingkungan dan paroki, pertemuan pembinaan dan aneka rapat. Kebersamaan ini bersifat liturgi/perayaan iman, pembinaan atau rapat kerja.

Tuhan senantiasa merindukan kita mengalami kebersamaan sebagai sebuah keluarga. Di sana kita bercakap-cakap, bersukaria, saling menghibur dan menggoda, meneguhkan dan bersenda gurau. Ini juga menjadi kerinduan kita. Sekilas   ini, kelihatan tidak ada untung dan membuang waktu. Tetapi kita akan mengalami perkembangan afeksi positif, relasi dengan Tuhan dalam iman, kita ungkapkan dalam relasi sosial dengan sesama umat beriman.

Dalam kesadaran ini, dewan Paroki Katedral merancang bahwa kita perlu mengalami kebersamaan secara santai, bermakna dan kreatif. Di sana, kita terus menerus merajut relasi dan kekerabatan dalam iman, harap dan kasih. Maka kita telah menemukan bahwa dalam momen perayaan Pesta Pelindung Paroki, kita jadikan sebagai hari silahturahmi-hari kekeluargaan bagi umat Katedral atau hari komunitas bagi paroki Katedral.

Untuk mensukseskan Pesta Pelindung Paroki ini, panitia telah bekerja keras. Berbagai perlombaan telah dilaksanakan sejak awal Bulan Oktober. Selama bulan Oktober dan November, kita merasakan denyut kebersamaan kita mewarnai perjalanan Paroki Katedral. Panitia bekerja dengan sukacita dan mereka bekerja sebagai putra-putri dalam sebuah keluarga.
Perayaan ini juga sekaligus penyerahan Gereja Katedral Medan kepada Tuhan melalui doa dan perlindungan kasih Bunda Maria yang dikandung tanpa noda dosa. Kita hendak bersyukur atas kasih dan pendampingan Tuhan dalam doa bunda Maria. Dan sekaligus kita menyatakan tekad dan komitmen iman untuk terus belajar dari Bunda Maria, bagaimana kehidupan yang tidak semakin dinodai dosa-dosa. Sebuah kehidupan yang didorong oleh harsat semakin baik, berbobot dan akhirnya makin suci. Singkatnya, kepada sang bunda kita menyerahkan paroki kita. Oh Bunda dalam perlindunganmu, kuserahkan paroki Katedral.

Sambil bersyukur kepada Tuhan,marilah kita mengobarkan sukacita, meringankan langkah kita datang ke acara pesta pelindung paroki Katedral sekaligus merayakan kebersamaan sebagai sebuah komunitas dan keluarga Allah. Buanglah kecenderungan menutup diri, egoisme dan merasa tidak membutuhkan orang lain. St Frasiskus berkata setiap orang adalah rahmat bagimu. Dan St Agustinus menegaskan, kalau saudara tidak merasa membutuhkan orang lain, tetapi ingatlah selalu, bahwa orang lain selalu membutuhkan anda. Ya Bunda Maria yang dikandung tanpa noda dosa doakanlah kami.  Amin.

 

 

....DETAILS

BERJAGA UNTUK SANG RAJA

(Luk 21:25-28, 34-36)

                Pada suatu hari, seorang pemuda pergi mengunjungi seorang yang bijak. 
 
Pemuda itu bertanya, “Bapa, tolong katakan kepada saya, kapan tepatnya saya harus bertobat dan mengubah cara hidup saya?”.
 
Orang bijak itu menjawab, “Anak muda, engkau harus mengubah cara hidupmu pada hari sebelum meninggal dunia!.”   
 
Kemudian pemuda itu bertanya lagi, “Dan kapan hari kematian saya itu?” Maka orang bijak itu berkata lagi, “Mungkin besok!”. 
 
Kata pemuda tadi, “Jadi, itu berarti saya harus mengubah cara hidup saya hari ini juga?” Orang bijak pun berkata, “Ya, sekarang!”
 
            Hari ini Penginjil Lukas mengajak kita agar berjaga-jaga untuk menyambut Tuhan dan tidak boleh ditunda-tunda lagi.
 
“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36).
 
 
Pada hari Minggu pertama masa Adven ini, kita diperingatkan untuk berjaga-jaga menghadapi kedatangan Tuhan.
 
Tuhan akan datang pada pesta Natal.
 
Tetapi Tuhan juga datang dalam setiap peristiwa hidup harian kita, asal kita peka dan berjaga-jaga untuk melihat dan menyambut kedatangan Tuhan itu. 
 
Masa Adven tidak hanya terbatas pada empat minggu menjelang pesta Natal, tetapi seumur hidup kita. 
 
Kita harus selalu dalam suasana Adven, sebab Tuhan selalu bisa datang dalam setiap kejadian, setiap peristiwa, juga dalam setiap pengalaman yang paling sederhana sekalipun.
 
Setiap peristiwa dalam hidup kita sebenarnya menjadi peristiwa kedatangan Tuhan.
 
            Saudara, mungkin kita baru berjaga-jaga kalau akan kedatangan tamu:
 
Seluruh rumah kita bersihkan, pakaian kotor kita masukkan ke dalam kardus-kardus dan diletakkan di bawah tempat tidur.
 
Memang, ketika tamu datang nampak bersih dan rapi.

  
Tetapi, setelah tamu itu pulang, rumah akan kembali seperti semula, amburadul seperti kapal pecah.
              Marilah kita menjadi orang beriman yang senantiasa berjaga-jaga dalam setiap peristiwa.
 
(Rmm).       
....DETAILS

APA BENAR DARI HATIMU SENDIRI?
 Apakah kejahatan Yesus sampai Ia dihukum mati di kayu salib?
 
Ia mengatakan diri-Nya Raja orang Jahudi. Itu yang dianggap kejahatan yang Yesus lakukan. Dakwaan itu tertulis dalam tiga bahasa:
 
Ibrani
Latin
Yunani
 
di atas kepala-Nya pada kayu salib. (Yoh 19:19-20), supaya orang yang membaca dan mengetahui kejahatan-Nya.
 
Pada perayaan Kristus Raja ini, kita juga bisa bertanya pada diri kita sendiri: apakah kita ini berkata “dari hatimu sendiri”  (Yoh 13:34) bahwa Yesus adalah Raja atau kita hanya mengikuti tradisi gereja dengan membaca, berdoa dan bernyanyi “Kristus Jaya”? 
 
Tetapi ingat: Jika kita menerima “dari hati kita sendiri” bahwa Yesus adalah Raja, kita akan ditolak dan dianiaya seperti Dia.
 
Karena Yesus bukan hanya seorang Raja akan tetapi Raja dari segala raja (Why 1:5). Ia dan pengikut-2Nya adalah ancaman bagi raja-raja dan penguasa, kecuali kalau mereka mengakui kedaulatan-Nya. Oleh karena-Nya, Ia disalibkan dan menderita (Flp 3:10).
  
Untuk merayakan perayaan agung hari ini tanpa berpura-pura, untuk sungguh-sunguh menerima Yesus sebagai Raja, kita harus mengasihi
 
Dia untuk hidup dan mati bagi Dia saja dengan menyerahkan segalanya, seperti untuk membeli  mutiara yang berharga dalam Kerajaan-Nya (Mat 13:44,46). 
 
Maukah kita merayakan Kristus Raja dari kesadaran hati kita sendiri dan bukan ikut-ikutan?
 
 “KekuasaanNya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaan-Nya ialah kerajaan yang tidak akan musnah”   (Daniel 7:14)
 

 

 

....DETAILS

 
 
     
  HOME  |  SEJARAH PAROKI   BERITA  |  IMAN KITA  |  RENUNGAN  |   BUKU TAMU   TANYA JAWAB Gereja Katedral Medan
Developed by Prof. Dr. Petrus Irwan
Maintained by Bonar Siahaan