Gereja Katolik
PAROKI ST. PERAWAN MARIA YANG DIKANDUNG TAK BERNODA ASAL - KATEDRAL MEDAN

English Indonesia
  SEJARAH PAROKI  | BERITA | IMAN KITA  | RENUNGAN | BUKU TAMU | TANYA JAWAB
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 3
Lukas 1:38

Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Luke 1:38

Then Mary said, Behold, I am the handmaiden of the Lord; let it be done to me according to what you have said. And the angel left her.
Lukas 1:46-47

Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,

Luke 1:46-47

And Mary said, My soul magnifies and extols the Lord,
And my spirit rejoices in God my Savior,

Lukas 1:48

sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
Luke 1:48

For He has looked upon the low station and humiliation of His handmaiden. For behold, from now on all generations [of all ages] will call me blessed and declare me happy and to be envied!
Lukas 1:49-50

karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.

Luke 1:49-50

For He Who is almighty has done great things for me--and holy is His name [to be venerated in His purity, majesty and glory]!
And His mercy (His compassion and kindness toward the miserable and afflicted) is on those who fear Him with godly reverence, from generation to generation and age to age.

Lukas 1:51

Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Luke 1:51

He has shown strength and made might with His arm; He has scattered the proud and haughty in and by the imagination and purpose and designs of their hearts.
Lukas 1:52-53

Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;

Luke 1:52-53

He has put down the mighty from their thrones and exalted those of low degree.
He has filled and satisfied the hungry with good things, and the rich He has sent away empty-handed [without a gift].

Lukas 1:54

Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,

Luke 1:54

He has laid hold on His servant Israel [to help him, to espouse his cause], in remembrance of His mercy,

Lukas 1:55

seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
Luke 1:55

Even as He promised to our forefathers, to Abraham and to his descendants forever.
Lukas 2:48

Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."
Luke 2:48

When his parents saw him, they were astonished. His mother said to him, "Son, why have you treated us like this? Your father and I have been anxiously searching for you."
Yoh 2:5

Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"
John 2:5

His mother said to the servants, “Do whatever he tells you.”
     
       
SEKRETARIAT
DPPKM
STASI ST. PAULUS
LINGKUNGAN
LITURGI
PETA
 PELAYANAN PASTORAL
   
 
 WARNASARI
   
 
 VIDEO
   
 
 
SEKRETARIAT

GEREJA KATEDRAL
St. Perawan Maria yang Dikandung tak Bernoda Asal

PAROKI KATEDRAL MEDAN
Jl Pemuda No. 1 – Medan 20151
Telp : 061 - 4552753
Fax : 061 - 4558918
 Handphone :
081361925876

JAM KERJA
Senin s/d Jumat : Pkl 09.00 - 16.30 WIB
Sabtu : Pkl 09.00 - 12.00 WIB
YM LIVE CHAT
JOIN US

 
Link Lainnya:
 
 

HOLY BOOK


:  -



 

K O N K O R D A T

Lanjutan
 


 
MISA SYUKURAN 40 TAHUN TAHBISAN USKUP MGR. PIUS DATU BARA
 


RM Indonesia Online Streaming
Dengarkan di WINAMP


Radio Karina


Radio HMWN


Radio Maria


Radio Spirit Catholic

   
 

1415781

Pengunjung hari ini : 26
Total pengunjung : 241320

Hits hari ini : 50
Total Visitor : 1415781

Pengunjung Online: 1

RENUNGAN
PREVIOUS PAGE         NEXT PAGE
THOMAS MENJADI PERCAYA


Renungan Katolik PH Vol. 10 No 8

 
Nama Tomas di kalangan umat Kristen bukanlah nama yang asing.

Kalau orang yang pandai berdebat dan selalu mencari alasan-alasan untuk pembenaran diri, maka dirinya akan disebut si Tomas, yang kurang percaya.  

Kalau kita mencermati situasi hati Tomas lebih dalam, tentu kita akan memiliki “sikap yang lain” terhadap Tomas ini.

Pada saat itu, Tomas merasa frustasi, sedih, galau karena Yesus yang selama ini dijadikannya pedoman dan pegangan hidup serta masa depannya, telah wafat bahkan mati di kayu salib.

Tomas juga agak “mendua hati” tatkala para wanita mengatakan bahwa Yesus sudah bangkit.

Dalam kegalauan yang mendalam tersebut,

Tomas ingin menyendiri (retret) dan “memisahkan diri” dengan sahabat-sahabatnya untuk sementara waktu.

Dengan mengambil jarak dengan problema pribadinya, Tomas bisa berpikir lebih jernih bahkan dalam mengambil keputusan (discernment). Di lain pihak,

Yesus mengetahui situasi hati Tomas. Yesus menyadari bahwa Tomas masih sangat mencintai Dia sebagai gurunya.

Maka, Yesus pun tidak menegur dengan keras, melainkan dengan kelembutan.

Sikap lembut itulah yang membuat hati Tomas menjadi sadar dan “kembali ke pangkuan” sang Guru.

Yesus mengetahui sikap Tomas yang sedang galau itu dan tindakan-Nya yang lebih tepat adalah memberi kelonggaran bagi Tomas untuk menyendiri dan menyepi.

Kita pantas memuji sikap Tomas tersebut.

Dalam hal ini Tomas tidak percaya secara buta, melainkan ia mau suatu bukti, sehingga iman yang dibangun oleh Tomas sungguh-sungguh mendalam.

Untuk menanggapi sikap Tomas yang kurang Percaya tersebut, Yesus pun berkata, “Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya”.

Sahabat, marilah belajar dari Tomas yang kurang percaya namun menjadi percaya setelah melihat.

Pada zaman sekarang ini, tak ada alasan untuk tidak percaya karena tidak melihat-Nya.

Sesungguhnya, kita telah melihat Yesus dalam diri sesama kita apapun statusnya. (RMM). 

....DETAILS

HIDUP BUKANLAH KONSER LADY GAGA

Oleh: P. Morison Joddy Turnip

Menimba ilmu di negeri orang hanya akan menjadi pilihan bagi mereka yang berani menerima tantangan. Kemapanan dan ketenangan hidup di negeri sendiri dilepaskan untuk berjuang mengalahkan setiap rintangan di tengah jalan dan meraih impian. Berada dalam pengharapan akan masa depan yang lebih baik memberikan aliran energi untuk mengubah apa yang ada di angan menjadi berada di tangan. Sederet kalimat ini adalah rangkuman dan ramuan kekayaan pengalaman para mahasiswa Katolik Indonesia yang berada di Filipina yang merupakan bagian dari sebuah paguyuban bernama Perhimpunan Masyarakat Katolik Indonesia di Filipina (PMKIF). Saya dipilih dan dipercaya menjadi ketua paguyuban PMKIF pada awal Januari 2012 yang lalu. Sebagai paguyuban yang bersifat kekeluargaan, PMKIF beranggotakan para mahasiswa awam atau religius yang sedang studi di Filipina, keluarga para pejabat, pekerja dan pebisnis serta keluarga-keluarga yang terbentuk dari pernikahan campuran Indonesia-Filipina.
Saya mencetuskan ide untuk berbagi pengalaman sebagai sesama warga Indonesia dan kali ini yang diminta berbagi adalah mahasiswa-i yang sedang belajar. Sejumlah mahasiswa baik awam maupun religius yang sudah lama berada di Filipina diminta menuliskan pengalaman dan membagikannya lewat semacam buletin untuk memberi bantuan moral dan spiritual bagi mereka yang baru menginjakkan kaki di Filipina yang terletak di Utara Indonesia. Berbagai kisah getir, sedih, senang dan lucu terungkap dalam tulisan-tulisan berbagi kisah hidup itu. Kerumitan proses birokrasi dan administrasi, kesulitan berkomunikasi dan bersosialisasi karena perbedaan bahasa, pergesekan budaya dalam berinteraksi, rasa letih bahkan sampai jatuh sakit dalam beradaptasi dengan waktu kuliah dan praktek tidak jarang melemahkan perjuangan. Rasa sedih dan getir sering menimbulkan kerinduan akan suasana aman dan nyaman bersama orang-orang tercinta di tanah air. Akan tetapi kehendak untuk menggapai cita dan membangun masa depan yang lebih cerah terus melecut semangat sampai pada akhirya berhasil melewati saat-saat kritis tersebut dan meraih sukses.
Saat ini kita merayakan Paska, kebangkitan Tuhan. Pengalaman-pengalaman sedih dan getir para mahasiswa Indonesia di negeri orang mendapat peneguhan dalam pengalaman Paska. Seperti Yesus yang rela meninggalkan keallahanNya dan masuk ke dunia untuk menanggung sengsara dan derita demi masa depan umat manusia yang bahagia (Filipi 2:6-8), demikian juga para mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Filipina rela sekian tahun berjuang dengan lelah demi masa depan yang lebih cerah.
Beberapa waktu yang lalu Lady Gaga, penyanyi terkenal dari Amerika,  memutuskan untuk mengadakan konser di Jakarta pada bulan Juni nanti. Mengherankan bahwa begitu banyak orang terutama kaum muda yang rela menginap semalaman di tempat penjualan tiket untuk mendapatkan tiket seharga ratusan ribu sampai jutaan. Demi konser yang hanya beberapa jam, mereka rela membayar mahal dan mengantri semalaman. Perjuangan hidup kita jauh lebih bernilai dan berharga, bukan seperti mengantri tiket konser Lady Gaga yang hanya demi pertunjukan beberapa jam saja. Sejumlah mahasiswa katolik Indonesia berjuang sekian lama di negeri orang untuk masa depan yang panjang nan cerah. Kristus yang telah bangkit demi kebahagiaan umat manusia merupakan model perjuangan kita di dunia. Kita berjuang melawan berbagai kesulitan dan menahan derita di dunia bukan demi waktu yang singkat berada di dunia ini

....DETAILS

NIAT SAJA TIDAK CUKUP
Oleh: Pastor Adytia Perangin-angin O.Carm
 
Pada saat acara pertemuan  dengan rekan-rekan yang diisi dengan acara ramah tamah. Kami menemukan sebuah gelas yang sudah diisi kopi dan gula dengan takaran yang cukup. Namun ketika saya perhatikan gelas itu tetap tidak diisi air panas, karena setiap peserta menyangka bahwa gelas itu adalah milik peserta lain. Tampaknya pengandaian bahwa gelas itu milik peserta lain tetap berlangsung sampai acara ramah tamah selesai, gelas tidak disentuh! Gelas yang berisi Gula dan kopi tetap pada  posisinya Melihat kejadian ini salah seorang teman menyeletuk mengatakan bahwa: “rupanya niat saja tidak cukup ya?” nampaknya orang yang mengisi gelas tadi sudah memiliki niat untuk minum kopi tetapi tidak jadi. Kisah sederhana ini kiranya bisa menjadi sebuah pintu gerbang menuju pemaknaan hidup yang sejati. Niat untuk mencintai keluarga saja tidak cukup bila kita tidak pernah bisa berjumpa satu sama lain. Niat untuk menjadi umat Allah yang sejati saja tidak cukup bila kita tidak pernah meluangkan waktu pribadi kita untuk berdoa secara pribadi padanya. Niat untuk mau menjadi orang baik saja tidak cukup bila kita tidak berbuat apa-apa.
Kiranya hal di atas ditegaskan dalam bacaan Injil hari ini,tatkala ada beberapa peziarah Yunani ingin “melihat” atau bertemu dengan Yesus. Apa maksud mereka tidak dikatakan, namun kiranya hal ini sangat mirip dengan pengalaman dua murid Yesus yang dating dan melihat Yesus lalu memilih menjadi muridNya. Kiranya niat orang Yunani ini bisa ditafsirkan demikian. Namun jawaban Yesus sungguh-sungguh sangat jujur dan polos tanpa niat terselubung, bahwasanya: “jikalau biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati ia akan menghasilkan banyak buah. Barang siapa mencintai nyawanya ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa tidak  mencintainyawanya di dunia ini ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barang siapa melayani Aku ia harus mengikuti Aku di mana Aku berada di situpun pelayanKu berada. Barang siapa melayani Aku ia akan dihormati Bapa.”
Ada banyak manusia yang memiliki kerinduan, cita-cita, angan-angan, … niat yang baik. Namun berhenti pada niat saja tidak cukup. Injil hari ini menegaskan kepada setiap umat Kristiani bahwasanya, jati diri umat Kristiani  adalah aktif! Aktif dalam menentukan sikap terhadap konsekwensi pilihan sebagai pengikut Kristus. Hidup adalah sebuah perbuatan. Aktif dalam liturgy, Aktif dalam doa-doa kelompok maupun prbadi, aktif dalam hidup menggereja. Umat Kristen yang Pasif ibaratkan gandum yang tidak jatuh ke tanah dan tidak mati! Kita harus berbuat, namun perbuatan tanpa didasari niat yang mendalam akan membuat arti hidup itu mengambang. Senantiasalah berjaga dalam doa agar niatan dalam hidup kita murni dan selalu dibisikkan oleh suara hati untuk melakukan yang benar   ....DETAILS

ALLAH: PENYELAMAT BUKAN PENGHUKUM
Oleh: RD. Silvester Asan Marlin
Saudara-saudari……
Bahwa Allah mencintai manusia, sudah sejak awal dunia menjadi kenyataan. Cinta Allah tampak pada kemauan Allah untuk menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Diberi-Nya mereka kebebasan untuk menentukan arah hidup mereka dan diberi-Nya mereka kekuasaan atau seluruh alam semesta.
Cinta Allah selanjutnya juga menjadi lebih nyata dalam bagaimana Ia setia membimbing umat Israel dengan memberikan para nabi membimbing mereka, membebaskan mereka dari penjajahan di Mesir, serta manaungi mereka dengan tanda-tanda alam seperti awan, air, hujan, kekeringan dll. Dari situ tampak jelas betapa Allah sungguh nyata di tengah mereka, meski mereka tidak melihat langsung wajah Allah. Setiap kali umat berdosa dan Allah mau membinasakannya, selalu tidak terjadi, karena akhirnya Allah berbelas kasih.
Cinta Allah kepada manusia akhirnya memuncak dengan diberikan-Nya PuteraNya kepada manusia, agar menyelamatkan dunia ini.  Putera-Nya sendiri diberikan sebagai silih atas kejahatan manusia, atas pelanggaran manusia. Putera-Nya dijadikan tumbal agar kesalahan manusia tidak diperhitungkan. Di sini menjadi jelas bagaimana Dia tidak ingin menghukum manusia/dunia, melainkan ingin menyelamatkannya. Barangsiapa percaya kepada PuteraNya, mereka akan diselamatkan.
Terhadap kasih Allah yang begitu besar ini, saya kerap bertanya: mengapa Dia begitu mengasihi kita? Mengapa Dia ingin agar kita semua selamat dan bahagia? Inilaha rahasia cina Allah yang kadang sulit dipahami  manusia.
Maka sebagai orang yang tahu berterima kasih, kiranya salah satu sikap yang benar adalah bersyukur dan menerima kasih itu secara bertanggungjawab. Dan itu berarti bahwa kita harus dengan rela menerima Putera-Nya sendiri yang diberikan kepada kita. Dalam penerimaan akan Dia, kita akan lebih menghayati pemberian itu.
Penerimaan yang baik itu bagaimana? Menurut saya, penerimaan yang tepat ialah bila kita hidup  dan bersikap seperti Dia sendiri yaitu datang bukan untuk menghukum dunia melainkan untuk menyelamatkannya.  Ini berarti kita diajak ikut aktif dalam karya penyelamatan dunia  dan seisinya.
Partisipasi dalam penyelamatan dunia menurut saya dapat berarti penyelamatan alam semesta ini. Tentu yang paling penting adalah penyelamatan manusia ....DETAILS

PASAR DALAM KEHIDUPAN KITA (Yohanes 2:13-35)

Oleh: P. Very Ara, Pr

Untuk mencari dan menemukan inspirasi tulisan saya, terutama kotbah, saya pergi ke Pajak Horas – Siantar. Sembari duduk di tangga utama, saya melihat dan akhirnya menemukan banyak gagasan. Namun, hingga saat ini, tidak satu kotbah pun yang bisa saya selesaikan di Pajak Horas. Sekembalinya ke kamar di Seminari Tinggi St. Petrus – Sinaksak, saya duduk untuk merenung (dalam meditasi dan doa) dan pada saat itulah ide-ide yang ditemukan di Pajak Horas muncul kembali. Pada saat itulah saya bisa merumuskannya dalam bentuk ilustrasi dan inti kotbah.
Alasannya jelas! Pasar adalah tempat yang super gaduh. Di sana akan ditemukan banyak hal dan tidak mustahil, saya bisa melihat Tuhan dalam diri ribuan orang yang datang untuk berjual-beli. Akan tetapi, untuk bisa berdialog dengan Tuhan secara intim dan mendalam, rasanya sangat sulit di pasar. Untuk mendengar dan berbicara dengan Tuhan dibutuhkan waktu dan suasana yang tampan dan tenang.
“Ambillah semua ini dari sini, janganlah kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan” (Yohanes 2:16). Demikian kata Yesus tatkala menghardik orang-orang yang berjualan dalam Kenisah Yerusalem.
Kenisah, Rumah Bapa, oleh Gereja disebut Tubuh Mistik Kristus sendiri, yaitu Gereja yang Kudus. Dalam wujud yang konkret, Gereja itu nyata dalam diri setiap orang Kristen: mereka adalah anggota Tubuh Mistik Kristus yang kelihatan. Itu berarti, di dalam diri sendiri, kita secara nyata bisa berjumpa dan berbicara dengan Tuhan. Oleh karena itu, Paulus menegaskan bahwa kita semua adalah Kenisah Allah,  Kenisah Roh Kudus.
Akan tetapi, betapa sering kita menjadikan diri kita ibarat pasar yang bising sehingga sulit untuk berjumpa dan berbicara dengan Tuhan. Kita memenuhi diri kita dengan 

....DETAILS

MASA PRAPASKAH: MASA NAIK-NAIK KE PUNCAK GUNUNG
Oleh:  RD. Benno Ola Tage
Di kalangan anak-anak, dahulu maupun sekarang di Indonesia, lagu naik-naik ke puncak gunung merupakan salah satu kesukaan. Bunyinya kurang lebih demikian:”Naik-naik ke puncak gunung puncak gunung tinggi-tinggi sekali. Kiri kanan kulihat....”. Setiap kali rekoleksi anak-anak sekolah menengah,dalam acara rekoleksi lagu ini sering dinyanyikan.
Gunung dan laut senantiasa menarik hati manusia. Mendaki gunung melalui jalan setapak menciptakan tantangan yang menyenangkan.
Dalam Kitab Suci, gunung bukan sekadar daratan yang kita lihat dan tempat kita berpijak. Gunung memiliki arti dari segi batin. Di gunung kita mengalami kesegeran karena udaranya,di gunung segala beban hidup menjadi lenyap,gunung sebagai lambang kebebasan batin dan gunung melambangkan wawasan kita amat luas.Gunung menjamin lambang terjaminnya padangan yang luas terhadap ciptaan dan alam semesta. Dari ketinggian gunung,kita dapat merasakan dan mengalami betapa agung dan dasyatnya sang Pencipta semesta.
Gunung dalam Kitab Suci adalah tempat Kemuliaan Tuhan. Hubungan Tuhan dengan nabi-nabinya selalu terjadi di gunung. Abraham mengorbankan anaknya di gunung(Kej. ), dan Tuhan kita Yesus Kristus menghembuskan nafas pada salib di gunung Golgota. Di atas Gunung sinai Tuhan memberikan 10 hukum Allah kepada Musa.Dari gunung lahirlah hukum Tuhan.Di atas gunung Horeb,Tuhan menampakkan diri untuk meneguhkan Elia agar ia membaharui Israel agar menjadi umat yang menghayati hukum Taurat. Dari Gunung, Tuhan membaharui Israel. Di atas gunung Karmel, Tuhan membakar persembahan lembu di atas altar yang dibangun oleh Elia.
Kita telah menemukan bahwa dalam Perjanjian Lama bahwa di atas gunung,manusia ....DETAILS

MENGHADAPI GODAAN
Oleh : RD.  P. Tripomo
Saudara-saudari terkasih, Yesus mengajak orang pada masa itu menekuni kepercayaan yang sudah mereka punyai. Masa depan diserahkan kembali kepada pelaku-pelakunya sendiri, yakni kaum beriman sendiri, kita-kita ini sendiri. Intinya kita digairahkan agar semakin mendengarkan dan mempercayai warta gembira dan melihat jauh ke masa depan dengan mantap. Ada beberapa catatan. Tidak banyak berguna bila kita merasa perlu "menjadi" seperti Yesus di padang gurun! Markus menyampaikan kisah Yesus digoda itu untuk membantu kita mulai mengenal siapa Yesus itu, bukan untuk memberi pesan-pesan moralistis kepada kita.
Kita juga boleh terus terang mengakui, kita tidak sekuat Yesus dalam menghadapi percobaan. Namun demikian, godaan-godaan yang kita jumpai juga tidak seganas yang dialaminya. Rupanya kekuatan menghadapi cobaan itu seukuran dengan beratnya cobaan itu sendiri. Semakin besar godaan, semakin kuat daya perlawanan yang tersedia. Perkaranya sebetulnya diserahkan kepada pilihan kita masing-masing: berpegang pada kekuatan ilahi atau mau menghadapi sendiri dan tentu kalah. Ini yang bisa kita tarik keluar dari kisah itu.
Memilih hidup bagi Allah menjadi awal perjalanan yang panjang bagi Yesus. Juga bagi para pengikutnya. Yesus nanti akan memperkenalkan siapa Allah itu kepada orang banyak. Kita tidak usah merasa ditugasi sama seperti Yesus. Bagian kita ialah menerima pewartaannya mengenai Allah. Bukan dengan mengatakan "ya" dan "betul begitu" belaka, tetapi dengan berupaya ikut memungkinkannya menjadi kenyataan. Bisa dikatakan, warta mengenai Kerajaan Allah tak akan membekas bila tidak disertai kesediaan untuk memberinya ujud yang nyata dalam masyarakat, juga yang belum pernah terbayangkan.
Pernyataan bahwa Kerajaan Allah "sudah dekat" masih juga memiliki arti bagi zaman ini.  Orang zaman ini pun boleh merasa diajak berkreasi ikut menjadikan gagasan Kerajaan Allah itu sebuah kenyataan yang dialami "sudah dekat". Kita boleh mengupayakan keadaan yang membuat orang lega, bebas dari waswas yang mengekang batin.    
....DETAILS

SEMANGAT KASIH DAN PENGAMPUNAN
Oleh:  RD Very Ara

Tatkala perang menakutkan meledak di Lebanon, seorang anak seminari ditawan oleh seorang Muslim yang bernama Druze. Dengan keras dan kasar, dia memerintahkan anak seminari itu menuruni sebuah lereng yang terjal untuk dieksekusi. Ternyata siswa seminari tersebut sudah dibekali dengan kemampuan bela diri dan latihan perang sehingga dia mampu melumpuhkan Druze dan merampas senjatanya. Situasi pun berbalik: bukan seminaris, melainkan Druze yang ditawan dan diperintahkan untuk bergerak ke arah lereng yang terjal untuk dieksekusi.

Akan tetapi, tatkala mereka menuruni lereng itu, siswa seminari teringat akan pesan Yesus: “Cintailah musuhmu. Bersikaplah baik terhadap orang yang membenci kamu”. Siswa seminari tidak berlangkah lebih jauh lagi. Dia melemparkan senjatanya ke semak berduri dan berkata kepada Druze untuk meninggalkannya ... dan dia sendiri pun kembali ke puncak gunung.

Beberapa menit kemudian, siswa seminari itu mendengar decak kaki Druze yang mengikutinya dari belakang. Druze berpikir dan bertanya, “Apakah ini adalah akhir dari semuanya? Siswa seminari pun berpikir lain: “mungkin Druze akan menembakinya dari belakang”. Oleh karena itu, dia tidak berpaling; dia terus berlangkah hingga akhirnya Druze berjalan berdampingan dengannya, memeluk dan merangkulnya erat serta mengucapkan terima kasih kepadanya karena dia telah menyelamatkan nyawanya!.

Kisah penyembuhan Yesus dan pengampunan dosa menyadarkan kita bahwa Kerajaan Allah merupakan tawaran kasih dan pengampunan. Pengampunan itulah yang menyembuhkan karena menjadi kesempatan untuk membangun kehidupan baru. Orang yang mampu mengampuni akan menyediakan kesempatan bagi orang lain untuk membangun dan menata kehidupan  ....DETAILS

 
 
     
  HOME  |  SEJARAH PAROKI   BERITA  |  IMAN KITA  |  RENUNGAN  |   BUKU TAMU   TANYA JAWAB Gereja Katedral Medan
Developed by Prof. Dr. Petrus Irwan
Maintained by Bonar Siahaan