Gereja Katolik
PAROKI ST. PERAWAN MARIA YANG DIKANDUNG TAK BERNODA ASAL - KATEDRAL MEDAN

English Indonesia
  SEJARAH PAROKI  | BERITA | IMAN KITA  | RENUNGAN | BUKU TAMU | TANYA JAWAB
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 3
Lukas 1:38

Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Luke 1:38

Then Mary said, Behold, I am the handmaiden of the Lord; let it be done to me according to what you have said. And the angel left her.
Lukas 1:46-47

Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,

Luke 1:46-47

And Mary said, My soul magnifies and extols the Lord,
And my spirit rejoices in God my Savior,

Lukas 1:48

sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
Luke 1:48

For He has looked upon the low station and humiliation of His handmaiden. For behold, from now on all generations [of all ages] will call me blessed and declare me happy and to be envied!
Lukas 1:49-50

karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.

Luke 1:49-50

For He Who is almighty has done great things for me--and holy is His name [to be venerated in His purity, majesty and glory]!
And His mercy (His compassion and kindness toward the miserable and afflicted) is on those who fear Him with godly reverence, from generation to generation and age to age.

Lukas 1:51

Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Luke 1:51

He has shown strength and made might with His arm; He has scattered the proud and haughty in and by the imagination and purpose and designs of their hearts.
Lukas 1:52-53

Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;

Luke 1:52-53

He has put down the mighty from their thrones and exalted those of low degree.
He has filled and satisfied the hungry with good things, and the rich He has sent away empty-handed [without a gift].

Lukas 1:54

Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,

Luke 1:54

He has laid hold on His servant Israel [to help him, to espouse his cause], in remembrance of His mercy,

Lukas 1:55

seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
Luke 1:55

Even as He promised to our forefathers, to Abraham and to his descendants forever.
Lukas 2:48

Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."
Luke 2:48

When his parents saw him, they were astonished. His mother said to him, "Son, why have you treated us like this? Your father and I have been anxiously searching for you."
Yoh 2:5

Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"
John 2:5

His mother said to the servants, “Do whatever he tells you.”
     
       
SEKRETARIAT
DPPKM
STASI ST. PAULUS
LINGKUNGAN
LITURGI
PETA
 PELAYANAN PASTORAL
   
 
 WARNASARI
   
 
 VIDEO
   
 
 
SEKRETARIAT

GEREJA KATEDRAL
St. Perawan Maria yang Dikandung tak Bernoda Asal

PAROKI KATEDRAL MEDAN
Jl Pemuda No. 1 – Medan 20151
Telp : 061 - 4552753
Fax : 061 - 4558918
 Handphone :
081361925876

JAM KERJA
Senin s/d Jumat : Pkl 09.00 - 16.30 WIB
Sabtu : Pkl 09.00 - 12.00 WIB
YM LIVE CHAT
JOIN US

 
Link Lainnya:
 
 

HOLY BOOK


:  -



 

K O N K O R D A T

Lanjutan
 


 
MISA SYUKURAN 40 TAHUN TAHBISAN USKUP MGR. PIUS DATU BARA
 


RM Indonesia Online Streaming
Dengarkan di WINAMP


Radio Karina


Radio HMWN


Radio Maria


Radio Spirit Catholic

   
 

1407022

Pengunjung hari ini : 23
Total pengunjung : 239375

Hits hari ini : 100
Total Visitor : 1407022

Pengunjung Online: 1

RENUNGAN
PREVIOUS PAGE         NEXT PAGE
KETERBATASAN BUKANLAH UNTUK PEMBELAAN
OLEH: RD. SEBASTIANUS EKA BS
 
 Sukacita dua orang murid yang dalam perjalanan ke Emaus sungguh tak tertahankan untuk segera diceritakan. Mereka cepat-cepat kembali lagi ke Yerusalem. Tak lain dan tak bukan karena mereka mau untuk segera bercerita mengenai pengalaman perjumpaan mereka dengan Yesus.
Yesus yang berjumpa dengan mereka bukanlah Yesus di masa lalu, melainkan Yesus yang sungguh nyata pada saat itu, yaitu Yesus yang memang benar sudah mati di salib tetapi juga adalah Yesus yang memang benar-benar sudah bangkit dari antara orang mati dan kembali mereka kenal.
Bercerita tentang pengalaman perjumpaan dengan Yesus merupakan cerita yang tentu memberikan keasyikan. Namun dalam keterasyikan itu bisa jadi justru membuat kita terlena hingga tak lagi kenal dengan Yesus sendiri. Begitulah peristiwa Injil hari ini. Mereka sangat asyik bercerita, sampai-sampai ketika Yesus sungguh datang justru tidak mereka kenal lagi.
Manusia memang tetap saja dalam keterbatasan, meskipun tak selalu disadari . Keterbatasan inilah yang justru sering menjadi bagi kita senjata untuk pembelaan diri kita atau pembenaran diri. Padahal semakin keterbatasan ini kita kedepankan dan menjadi sarana pembelaan justru akan semakin membatasi diri kita atau bahkan menghalangi kita untuk berkembang menjadi lebih baik lagi. Akibatnya? Kita menjadi orang-orang yang sombong dan pendusta. Satu sisi kita menganggap diri orang yang begitu dekat dengan Allah karena seringnya berdoa, tetapi ternyata tetap saja memelihara kebencian terhadap sesama.
Iman akan Tuhan membawa kita untuk berani ‘melampaui’ batas atau keterbatasan kita. Untuk  keluar dari keterbatasan ini justru kita harus berani sadar dan bertobat, sebagaimana ajakan Petrus dan Yohanes dalam bacaan pertama.   Dari situlah kita memulai lagi untuk mengarahkan diri hidup menuruti perintah Allah agar kasih Allah menjadi sempurna dalam diri kita.   Selamat memulai lagi.
 
   
PERCAYA MESKI TAK MELIHAT

 Hari Minggu ini kita memasuki Minggu Paska kedua. Kenangan dan perayaan akan Kristus yang bangkit merupakan perayaan yang selalu dilaksanakan setiap kita merayakan Ekaristi. Sebab memang begitulah harus terjadi dan terlaksana. Dengan begitu misteri karya keselamatan akan selalu merupakan bagian tak terpisahkan dengan hidup umat beriman atau Gereja.
 
Memang yang kita terima adalah roti/hosti yang sangat sederhana. Namun dalam rupa atau wujud yang sangat sederhana itulah kita menerima Yesus yang hidup.  Tak jarang muncul diskusi atau bahkan tuntutan supaya umat bisa menyambut tidak hanya Tubuh Kristus, tetapi juga Darah Kristus. Untuk itu memang berbagai argumen bisa diajukan. Akan tetapi mari kita kembali kepada inti iman kita, yakni bahwa yang kita sambut adalah Tubuh Kristus. Kristus yang kita sambut itu pun adalah Kristus yang hidup, bukan yang mati dan tetap di dalam kegelapan makam.
 
Dalam tubuh yang hidup itulah aliran Darah Kristus pun tetap dalam kesatuan kita terima. Kita memang tidak melihatNya secara kasat mata. Namun dengan mata iman lah kita menjadi percaya. Dengan iman pula kita mengakui bahwa yang kita sambut adalah benar-benar tubuh Tuhan kita Yesus Kristus. Maka iman sesungguhnya akan membimbing kita untuk mengerti, memahami dan menghayati.
 
Mari kita mohon agar Roh Kudus selalu menaungi kita, agar  dengan beriman kita semakin dibimbing untuk mengerti, memahami dan menghayati. Jadi bukan supaya kita suka menuntut kepada Gereja, melainkan berani memberikan diri dan berbuat demi Gereja.
 
Minggu Paska kedua didedikasikan  Gereja Katolik sebagai hari untuk merayakan Pesta Kerahiman Ilahi. Melalui gerak devosi kepada kerahiman Ilahi ini, kita diajak untuk semakin menyerahkan diri kepada Yesus sebagai andalan satu-satunya dalam hidup kita. Walau tak tampak, tetapi kita yakin bahwa Yesus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup kita.
“Berbahagialah yang percaya meski tak melihat” (Yoh 20 :29)
....DETAILS

TUHANKU ADALAH PENYEMBUHKU
OLEH: RD. BENNO OLA TAGE

 Manusia dewasa ini sedang bergerak untuk meraih mimpi bagi mereka yang sedang belajar dan mencari pekerjaan, untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya bagi mereka sedang bekerja,baik ibu rumah tangga,pekerja,pegawai maupun professional. Bagi yang bermasalah baik dengan kesehatan,relasi,ekonomi dan politik, merindukan pemulihan. Inilah salah wajah kehidupan di kota maupun di desa, di pantai maupun daerah pegunungan.
Sebagian kita sedang berada dalam kondisi tidak menyenangkan dan tragis. Maka keluhan yang muncul adalah hidup ini berat. Ini bukan keluhan manusia modern tetapi desahan nafas penderitaan yang dilontarkan manusia sepanjang zaman, baik zaman purbakala, zaman modern, maupun ribuan tahun di depan kita. Kita belajar, dan bekerja, kita mengeluh dalam penderitaan. Apa artinya semuanya ini bagi orang beriman?
Keluhan inilah yang dirumuskan dengan sangat menyentuh perasaan dalam bacaan pertama minggu ini: ”bila aku pergi tidur, maka pikirku: bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam kegelisahan sampai dinihari. Hari-hariku berlalu lebih cepat dari torak, dan berakhir tanpa harapan (Ayub 7:4, 6). Ya hidup ini sia-sia, dan semua dibawa kolong langit sia-sia (Pengk.1:1-11).
Sang pencipta manusia mengenal kita dan mengetahui kondisi paling tragis yang akan dialami oleh ciptaannya, manusia. Seorang ibu dan ayah yang baik tidak akan membiarkan anak-anaknya larut dalam kesedihan dan penderitaan,apalagi Bapa kita di surga. Yesus itu diutus untuk memulihkan manusia dari penderitaan dan kesedihan.
Peristiwa penyembuhan ibu mertua Simon Petrus, penyembuhan orang sakit dan kerasukan setan oleh Jesus (Mk.1:29-39) adalah tanda yang amat nyata, bahwa keluhan kesia-siaan kita didengar dan dialami oleh Tuhan, sebagaimana tangisan penderitaan sang anak akan memedihkan hati orangtua dan saudara-saudaranya.
Injil hari ini menyadarkan hati dan cinta Tuhan pada setiap orang yang menderita dalam bentuk apapun. Kita telah dibaptis dan kita telah percaya pada Kristus, sang penyembuh dan penyelamat kita, maka cari kita menafsirkan dan menghadapi penderitaan bukan seperti orang yang tidak percaya Yesus atau belum beriman pada Dia. Penderitaan kita menjadi surat undangan kepada Tuhan untuk memasuki rumah hidup kita, dan menyajikan pemulihan, sebagaimana ibu mertua Simon Petrus yang sakit membawa Kritus ke dalam rumahnya.
Sabda Tuhan pada hari menghalau keluhan, gerutu, umpatan dan kemarahan dari bibir kita atas penderitaan kita atau orang yang kita cintai. Ucapan yang layak diluncurkan mulut kita adalah doa: Tuhan tunjukkan aku jalan untuk menghadapi kesulitan setiap hari dalam hidupku sehingga aku tetap beriman dan berharap pada cinta dan kerahimanmu. Amin.  
 
PEMBARUAN HIDUP
Renhar cafe rohani
Anda tentu pernah sakit, entah itu sakit fisik, psikis, atau sakit rohani. Anda juga pernah melakukan kesalahan, entah sengaja atau tidak sengaja. Karena itu dalam Doa Tobat kita berkata, “Saya mengaku....,bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian.”  Kadang pikiran dan perkataan tidak sejalan dengan tindakan nyata. Intinya, tidak ada seorangpun yang sempurna.
Namun, Tuhan memanggil kita untuk menjadi sempurna seperti Bapa di surga itu sempurna (Mat 5:48). Artinya, Tuhan memanggil kita untuk terus membarui diri. Jangan sampai kita terus berkutat di dalam kebiasaan lama yang jahat.
Semua sudah jelas. Anda yang sakit mesti dibarui dengan pengobatan. Yang kesepian dibarui dengan pendampingan dan penghiburan. Yang sehat terus dibarui dengan memelihara hidup sehat. Dan yang salah dan berdosa dibarui dengan pertobatan. Kita harus mengakui dosa dosa kita di hadapan Allah. Pengakuan adalah jalan untuk memulihkan hubungan kita dengan Allah. Karena walau kita tidak setia , Ia tetap setia (2Tim 2:13). “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia yang setia dan adil akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh 1:9).
    Hal ini menjadi proses menuju kekudusan dan kesempurnaan dalam Tuhan. Orang kusta dalam injil hari ini datang kepada Yesus. Ia ingin hidupnya dibarui oleh kuasa-Nya (Mrk 1:40-45). Ia datang kepada orang yang tepat. Sekarang, ia telah sembuh (tahir) dan hidupnya normal seperti orang-orang di sekitarnya. Pembaruan hidup telah mengubah sejarah hidupnya. Ia menjadi “pewarta” karya keselamatan Tuhan Yesus di tengah dunia (ay 45). 
Sakit fisik bisa disembuhkan dengan pengobatan. Sakit rohani bisa disembuhkan melalui pertobatan. Keduanya membutuhkan tindakan nyata, yaitu “pergi”.  Sakit fisik pergi ke dokter. Sakit rohani pergi ke gereja untuk berdoa, mengaku dosa dan Misa kudus. Orang kusta telah memberi contoh konkret dengan tindakan nyata, pergi kepada Yesus.
....DETAILS

MENGAJAR DAN BERTINDAK
Oleh: RD.SEBASTIANUS EKA BS

 Dalam hidup keseharian kita sangat paham dengan keberadaan dan peranan guru. Karena keberadaan dan peranan para guru lah kita bisa berkembang. Perkembangan hidup kita sungguh tidak bisa dilepaskan karena keberadaan dan peranan para guru. Memang seturut profesi mereka adalah para pendidik dan pengajar. Pendidikan dan pengajaran tidaklah lepas dari tindakan. Misalnya saja seorang guru matematika mengajar, tentulah juga ada suatu tindakan yang ia lakukan antara lain menerangkan sambil menuliskan rumus-rumus tertentu. Terkadang tindakan itu berulangkali dilakukan sampai para peserta didik (murid) bisa memahami dan menerapkan.

Guru yang baik tentulah mengajar dengan baik pula. Dengan cara pengajaran yang baik, para murid pun akan patuh dan taat. Tepatlah apa yang dikatakan orang bahwasanya guru adalah untuk digugu dan ditiru (ditaati dan diteladani).  Pengajaran ditaati dan tindakannya menjadi hal yang diteladankan. Demikianlah peran dan citra guru yang ideal.

Dalam diri Yesus kehadiran-Nya sebagai Sang Guru sungguh nyata. Dia mengajar dengan penuh wibawa. Apa yang Ia ajarkan adalah nilai-nilai kehidupan yang sifatnya abadi dan penuh kebenaran. Tak seorang pun sanggup membantah apa yang Dia ajarkan. Di samping itu Dia tunjukkan juga tindakan-Nya yang penuh wibawa itu. Pengusiran setan merupakan wujud nyata betapa tindakkan-Nya penuh wibawa dan kuasa. Setan-setan sungguh patuh dan taat. Tindakan itu sekaligus merupakan contoh bagi para murid yang saat itu menyaksikan-Nya.

Kini giliran kita berrefleksi diri. Kita merasa diri sebagai murid-murid Yesus. Kita pun mengakui bahwa Yesus adalah Sang Guru. Pertanyaan refleksi bagi kita adalah: sejauh mana kita telah taat dan meneladani Dia? ....DETAILS

MENGHANTAR - MENUNTUN SESAMA
MENGHANTAR - MENUNTUN SESAMA
Yohanes 1,35-42
OLEH: RD. ALF VERI ARA

 Amon dan Amin adalah dua bersaudara kembar. Mereka tinggal di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota. Walaupun kembar, mereka memiliki warna kulit yang kontras berbeda. Amon berkulit putih-terang, sedangkan Amin berkulit hitam-gelap.
Mereka dikenal oleh banyak orang karena kedekatan dan keakraban yang terbina di antara mereka. Mereka saling menghibur dan saling membahagiakan. Segala sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan Amon selalu dibagikan kepada Amin.
Pada suatu hari, Amon menyusuri sungai kecil di kampong mereka untuk mencari udang. Amon menemukan satu genangan air kecil yang sangat tenang. Dalam genangan itu, Amon menangkap banyak udang dan ikan. Amon sangat bahagia. Sekembalinya ke rumahnya, Amon bercerita kepada Amin, bagaimana udang dan ikan menabrak kakinya yang terendam di dalam genangan air yang tenang itu.
Bagi anak desa, pengalaman seperti ini sangat menyenangkan. Amin penuh kegirangan mendengarkan kisan si Amon. Di saat bercerita, Amon  serentak berpikir supaya membawa Amin ke tempat itu. Dia ingin agar Amin mengalami hal yang membahagiakan itu. Di hari yang sama, Amon dan Amin bergegas menuju genangan air yang tenang itu. Keduanya sangat bahagia ketika menangkap udang dan ikan.
Amon pasti tidak akan berpikir untuk membawa Amin ke genangan air suangai yang tenang itu jika dia mengalami pengalaman yang mengecewakan. Amon hanya membawa Amin ke kolam yang menjadi sumber kebahagiaan. Amin pun percaya bahwa Amon tidak mendustainya dan ingin selalu berbagi kebahagiaan dengannya.
Andreas yang awalnya adalah murid Yohanes Pembaptis menemukan satu sumbber hidup yang membahagiakan. Atas petunjuk Yohanes Pembaptis, dia berjalan mengikuti Yesus.  Awalnya, dia hanya ingin mengetahui tempat tinggal Yesus. Di luar dugaanya, Yesus justru mengundangnya dan sahabatnya untuk datang ke tempat tingga-Nya. Andreas dan sahabatnya tinggal bersama Yesus hingga pukul empat. Walaupun tidak dikisahkan bagaimana peristiwa yang terjadi ketika dengan sahabatnya berada bersama Yesus, namun hal yang pasti dialaminya adalah pengalaman yang sangat membahagiakan.
Andreas tidak mau jika pengalaman yang membahagiakan itu dialaminya sendirian. Oleh karena itu, ketika berada bersama Simon, saudaranya, dia bercerita tentang Yesus dan pengalamannya yang membahagiakan itu ketika “tinggal bersama Yesus”.  Lebih dari itu, dia membawa Simon kepada Yesus. Simon pun mengalami pengalaman yang membahagiakan seperti yang dialaminya ketika tinggal bersama Yesus.
Yohanes menuntun Andreas, muridnya untuk mengenal Yesus. Andreas pun membawa Simon kepada Yesus. Setelah mengenal Yesus, mereka merasa terpanggil untuk membawa siapa pun saja kepada Yesus.
Sebagai orang yang dibaptis sebagai pengikut Kristus, kita telah mengalami banyak hal dan banyak pengalaman tinggal bersama Yesus. Tugas kita adalah membawa mereka kepada Yesus. Tugas ini tidak selalu menuntut kita untuk memperkenalkan Yesus dengan kata-kata yang fulgar. Kita bisa memperkenalkan Yesus yang kita alami dan kita imani dengan cara hidup kita. Dengan bersikap jujur, sopan, setia, bertanggung-jawab, social, hormat dan santun kepada orang lain, ramah dan sebagaimanya, kita sudah menghantar mereka kepada Yesus. Hendaknya kita berjuang agar cara hidup kita tidak menghambat orang lain untuk datang kepada Yesus. Kita butuh sesosok manusia seperti Yohanes Pembaptis dan Andreas.
....DETAILS

BAPTISAN; MENJADIKAN AKU ANAK ALLAH
(Markus 1: 7 – 11)
OLEH: RD. SILVESTER ASAN MARLIN

 Saudari-saudara,
Yesus dibaptis oleh Yohanes bukan sebagai tanda tobat dan pengmpunan dosa seperti yang dimaksudkan dan diserukannya kepada orang-orang di sekitarnya. Sudah sejak semula Yohanes menyatakan bahwa akan datang yang lebih berkuasa  darinya, bahkan membuka tali kasut-Nya pun ia merasa tidak layak. Dia itulah yang akan membaptis semua orang dengan Roh Kudus dan api. Lalu, untuk apa Yesus dibaptis?

Saudari-saudara
Sesaat setelah dibaptis oleh Yohanes, terbukalah langit dan Roh Kudus turun disertai suara dari langit, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” Dari kata-kata itu, terungkaplah bahwa pembaptisan Yesus menyatakan Dia sebagai Putera kesayangan Bapa dan kepada-Nyalah Dia berkenan. Pernyataan ini tentulah tidak ditujukan kepada Yesus, karena Dia tidak memerlukan pernyataan tersebut. Dari semula Dia bersatu dengan Bapa dalam ikatan kasih sempurna dan sejak semula pula Dia berkenan kepada Bapa.
Pernyataan dari langit dinyatakan bagi semua pendengar yang berkumpul di tempat Yohanes membaptis. Kata-kata dari Bapa merupakan pernyataan rahmat Ilahi yang akan dikaruniakan  kepada setiap orang yang menerima baptisan. Mereka yang dibaptis, dosa-dosanya dibakar dengan api penebusan yang dibawa oleh Yesus dan hidupnya diperbaharui oleh Roh-Nya. Karena itu, pembaptisan yang kita terima menjadikan kita semua sebagai anak-anak Allah yang dikasihi-Nya; yang berkenan kepada-Nya. Sekarang, masalahnya adalah mampukah kita menjaga baptisan kita dengan tetap menjadi anak-anak Allah yang pantas dicintai oleh Allah dan yang hidup berkenan kepada-Nya?

Doa: Allah Bapa di dalam surga, aku bersyukur atas baptisan yang boleh kuterima. Melalui baptisan itu, Engkau menyatakan cinta-Mu kepadaku dan mengangkatku menjadi anak-Mu. Jagalah hidupku selalu, agar aku tetap menjadi anak-Mu yang Kaukasihi dan apa yang kulakukan selalu berkenan kepada-Mu sampai akhir zaman. Amin
....DETAILS

SANG RAJA SEGALA RAJA DI PALUNGAN HINA
MAT 2:1-12
OLEH: RD. SEBASTIANUS EKA BS
Kelahiran seorang Putera atau Puteri Raja, biasanya sudah jauh hari disiapkan berbagai hal untuk menyambutnya. Dan saat kelahiran telah terjadi berbagai acara perayaan syukur akan dilaksanakan oleh keluarga istana. Apalagi bila yang lahir itu adalah putera pertama, atau yang biasa disebut sebagai putera mahkota. Namun peristiwa-peristiwa sekitar kelahiran Yesus ternyata sungguh sangat berbeda bahkan sangat kontras.
Dia lahir bukan di tangan serang bidan dan di rumah sakit mewah, bahkan di rumah sakit atau poliklinik yang paling sederhana pun tidak! Dia, Sang Raja segala raja itu justru lahir di kandang hina. Tidak ada kain sutera halus untuk membedungnya dan hanyalah selembar lampin lusuh untuk menghangatkanNya. Tidak ada ayunan bayi berhias indah dengan berbagai asesori, melainkan hanyalah sebuah palungan hina untuk pembaringanNya. Namun Dia tetaplah Raja segala raja.
Tempat yang sangat hina itu justru mengundang berbagai lapisan untuk datang dan bersujud. Para gembala tidak takut untuk bersembah dan bersujud. Merekalah mewakili lapisan kaum masyarakat paling sederhana. Akan tetapi tidak ketinggalan pula lapisan masyrakat kalangan tinggi pun juga hadir. Mereka itu adalah para raja dari timur. Mereka datang dan berlutut seraya menyembah Yesus, Sang Raja maha mulia yang datang bagi manusia dan dunia. Mereka itu adalah Baltasat. Melkior da Caspar.
Kepada mereka semua yang datang, Yesus menampakkan betapa agung dan mulia Allah yang datang dari tempat tinggi. Dia datang tidak dengan kemegahan, melainkan dalam kehinaan. Kehinaan tidaklah menghapus kemuliaanNya. Dalam kehinaanNya itulah justru terpancar kemuliaan yang sejati. Nyata terbukti bahwa Ia sungguh mengsongkan diri sebagai seorang Abdi yang sejati. Kemuliaan Ilahi dibalut dalam kain papa nan hina, semakin terpancar agung dan mulia.
Mari kita pun datang seraya bersembah dan bersujud ke hadapan tahta kemuliaanNya. Apakah persembahan kita? Adakah pada kita emas, kemenyan atau mur sebagaimana dibawa oleh para majus? Bukan itu yang diminta oleh Tuhan Yesus. Dia menantikan kita sekalian untuk mau ikut serta memberikan/mempersembahkan diri untuk ikut serta mewartakan kemuliaanNya. Mari kita gunakan jalan yang ditunnjukkan oleh Allah, sebagaimana para majus yang megikuti jalan Allah setelah berjumpa dengan Yesus.
....DETAILS

MEMPERSIAPKAN JALAN TUHAN
OLEH:  P. LEO SIPAHUTAR, OFMCAP
 
 Ketika bangsa Israel dibuang di Babilon, di negeri orang, nabi Yesaya memaklumkan bahwa Tuhan akan datang membebaskan mereka dan mengantar mereka pulang ke tanah airnya: “Lihat, itu Tuhan Allah, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tanganNya Ia berkuasa” (Yes. 40: 10a). Tetapi bangsa Israel perlu bersiap menyambutNya dengan menyediakan jalan bagiNya. Jalan harus diratakan, lembah ditimbuni, bukit direndahkan, yang bengkok diluruskan, yang berlekak-lekuk diratakan. Tentu saja Yesaya tidak bermaksud meratakan jalan di gurun Babilon, sebab belum ada bulldozer pada masa itu. Yang dimaksudkan Yesaya ialah hati orang Israel:  hati yang berbukit sombong, yang menyangka dapat menyelamatkan diri; hati yang berlembah putus asa tanpa yakin ada harapan; hati yang bengkok curang penuh tipuan, hati yang berlekuk kotor penuh kemunafikan. Yesaya menegaskan bahwa kedatangan Tuhan menuntut pemurnian dan pembersihan hati.
Hal yang sama diwartakan Yohanes Pembaptis ketika dia mewartakan kedatangan Yesus Kristus Sang Mesias: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagiNya” (Mrk 1: 3b). “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku… Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus” (Mrk 1: 8b). Yohanes mengajak rakyat untuk bertobat, menyesali kesombongan, kecurangan dan kemunafikannya. Orang harus mengakui kejahatannya di hadapan umat dan Allah, lalu dibaptis di sungai Yordan sebagai tanda pertobatan dan pengampunan.
Pada masa Adven ini Gereja mewartakan kepada kita bahwa Tuhan akan datang mengunjungi kita. Tetapi kita hanya dapat merasakan dan menghayati kedatanganNya, kalau kita bersedia membersihkan hati kita, kalau kita bertobat, mengakui dan menyesali kekotoran dan kejahatan kita. Hanya kalau kita bersedia mengobah cara hidup kita yang sesat, mengobah pandangan dan pikiran kita yang salah, baru kita melihat kedatangan Tuhan. Itulah inti pertobatan sejati. Pertobatan berarti meluruskan arah hidup kembali kepada apa yang dikehendaki Allah demi kebahagiaan kita. Pertobatan juga berarti meninggalkan apa-apa yang dirasa sebagai penghambat, penghalang untuk kemajuan kita menuju kebahagiaan bersama Allah. Dalam pertobatan yang demikian hati, pikiran dan perbuatan kita menyatu untuk lebih dapat berhubungan erat dengan Tuhan yang akan memperlengkapi kehidupan dan kebahagiaan kita.
....DETAILS

MASA ADVEN: MEMULIHKAN KOMUNIKASI, MENUAI PERSAHABATAN
OLEH: RD. BENNO OLA TAGE

 Perayaan Ekaristi, 30 November 2014, adalah Perayaan Ekaristi pertama dalam tahun yang baru,  tahun liturgi B, tahun 1 dan sekaligus perayaan adven pertama dalam menyambut Natal 2014. Dalam renungan ini, saya menyajikan bahan refleksi yang memadukan makna dan semangat rohani yang dihayati dalam tahun liturgi yang baru dan makna dan semangat rohani advent 2014.
 
Ada tiga ide dasar yang patut kita hidupi bersama dalam memasuki tahun liturgi B/1 dan masa advent 2014. Pertama, Masa advent mengakui dan menandaskan bahwa kita adalah manusia yang tidak sempurna. Kita tidak akan pernah menjadi pribadi yang utuh dalam pikiran, perasaan dan hati serta tingkahlaku (menjadi dewasa dan matang menurut ukuran  ajaran dan moral Kristiani), kalau kita tidak memulihkan hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Masa advent adalah masa untuk menyadari dan mengakui kelemahan dan dosa kita, kemudian melangkah dalam pembaruan komunikasi dan persahabatan personal dengan Tuhan. Masa advent adalah sebuah perjalanan rohani untuk mencari dan bersahabat dengan Tuhan. Sebab, persahabatan dengan Tuhan akan menghasilkan persahabatan dengan sesama. Jadi bila ingin bersahabat dengan sesama, hal yang pertama-tama dilakukan bukan mencatat nomor hp setiap orang yang kita jumpai, dan menambahkan account email dalam daftar buku saku kita. Tetapi hal yang pertama dan utama mencatat Sabda Allah, ajaran iman kita di dalam kalbu dan hati. Dengan cara ini, kita akan menemukan mesin penggerak rohani untuk mendarat di landasan persahabatan dengan sesama.
 
Kedua, masa Advent adalah juga masa Tuhan mencari kita. Tuhan sedang datang untuk mencari kita. Bacaan-bacaan Kitab Suci selama masa advent menggambarkan bahwa Tuhan sedang mencari kita. Perjalananan kita mencari Tuhan tidak akan tercapai kalau Tuhan juga tidak mencari kita. Saat ini, Tuhan sedang mencari Anda seperti sang ayah dalam kisah anak hilang, di mana sang ayah sedang dalam posisi mencari sang putra bungsu ketika putra bungsu menjumpainya (Luk.15:11-32). Maka kita hendaknya mempersiapkan diri melalui pertobatan   sebagai salah satu cara untuk menyambut Tuhan yang mencari kita.

Ketiga, Selepas masa Advent, kita menyambut kehadiran Tuhan dalam bentuk manusia, Jesus lahir bagi kita. Tuhan yang kita cari, kita temukan dalam Jesus, yang lahir bagi kita. Karena ketika Tuhan mencari kita, IA datang dalam wujud manusia seperti kita. Dan sepanjang Tuhan liturgi B, Tuhan selalu datang kepada kita dan mencari kita dalam bentuk Perayaan Ekaristi. Sambtulah Dia dalam Ekaristi Kudus.

Sambutlah Tuhan yang mencari kita, marilah kita menjadi komunitas yang merindukan Tuhan. Karena sesungguhnya kerinduan Tuhan atas kita itu abadi. “Berjaga-jagalah, lihatlah Dia datang.’
....DETAILS

 
 
     
  HOME  |  SEJARAH PAROKI   BERITA  |  IMAN KITA  |  RENUNGAN  |   BUKU TAMU   TANYA JAWAB Gereja Katedral Medan
Developed by Prof. Dr. Petrus Irwan
Maintained by Bonar Siahaan